Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next

Rabu, 15 Agustus 2012

Lebaran Hari Pertama, Ziarah Kubur dan Bersebuku


Ragam dan cara orang merayakan Hari Raya Idul Fitri berbeda-beda disejumlah tempat. Sebagian orang merayakan Idul Fitri atau lebaran dengan makan-makan, ada juga dengan mencoba berbagai jenis pakaian baru. Selain itu, silaturrahmi dan saling kunjung merupakan tradisi lebaran yang lazim dilakukan masyarakat di tanah air.

Di lingkungan tempat tinggal saya, Kota Takengon Aceh Tengah, silaturrahmi baru dilakukan masyarakat pada hari kedua lebaran. Pada hari pertama, setelah shalat ied, Kota Takengon terlihat sangat sepi. Rumah-rumah penduduk seperti tanpa penghuni. Kemana mereka pergi? Ternyata pada hari pertama lebaran digunakan penduduk untuk prosesi ziarah kubur.

Bagi mereka yang baru pertama kali merayakan lebaran di Kota Takengon pasti akan terheran-heran saat melihat orang berduyun-duyun keluar rumah. Mereka bukan mengunjungi tetangga. Mereka sekeluarga ziarah ke kuburan orang tua atau sanak keluarganya dengan membawa cangkul dan parang. Jangan disimpulkan bahwa mereka tidak menerima tamu, tetapi hari pertama lebaran dikhususkan untuk keluarga.

Sebaliknya, bagi warga pendatang dari pesisir Aceh yang sudah lama bermukim di Kota Takengon, merayakan lebaran tetap dengan acara silaturrahmi sesamanya. Mereka akan berkunjung ke rumah tetangganya (penduduk asli) pada hari kedua lebaran. Tradisi silaturrahmi pada hari kedua lebaran sudah cukup familier bagi warga Kota Takengon.

Apa yang dilakukan warga Kota Takengon ketika berada di kuburan orang tua atau keluarganya? Salah satunya adalah membersihkan kuburan, lalu dilanjutkan dengan berdoa. Mereka juga membawa air dalam teko yang kemudian disiramkan ke atas pusara. Setelah itu, mereka menabur bunga diiringi dengan doa.

Tidak jarang juga beberapa orang melakukan “sebuku” yaitu tangisan yang diiringi dengan kalimat berisi kenangan terhadap almarhum atau almurhumah. Meskipun “sebuku” dilarang oleh para tokoh agama, namun ketika mereka berada di pusara keluarganya tetap tak mampu menahan tangis.

Ketika berada di komplek perkuburan jangan terkejut jika tiba-tiba ada orang yang histeris. Begitu berada di depan pusara orang tuanya, langsung mereka ber”sebuku.” Menurut mereka, kenangan indah serta jasa dari orang yang telah meninggal itu sungguh tak terlupakan. Itulah penyebab sebagian mereka tak mampu menahan tangis.

Kalimat “sebuku” yang sering meluncur dari mulut seorang anak, antara lain:

“Alahe inengku, aku iluwahi inengku, muluwahi beret kin tubuhku, muluwahi sinte kin bedenku. Iluwahi inengku, turun nik senye, turun soboh munik iyo, kati lepas aku kawul, kati lugen aku naru, sana kene limah mamur ni kum biak kati lepas aku kawul.”

(Terjemahan bebasnya: Ibuku tak punya apa-apa, tidaklah sama dengan kebanyakan orang yang serba mampu dan cukup sesuatu yang ia pergunakan. Ibu melepaskanku, untuk mengajarku bertanggung jawab, disamping melepaskan kewajiban ibu pada putrinya). Oleh Syukri Muhammad

sumber : http://sosbud.kompasiana.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Mudik ke Aceh, Tompi Gelar Tradisi Potong Daging


Penyanyi Tompi sudah memiliki sejuta rencana saat Lebaran tiba nanti. Salah satunya, ia ingin mudik di tanah kelahirannya, yaitu di Aceh.

"Paling saya mau mudik pas 'H'-4 dan tutup klinik selama seminggu," tandas Tompi di kliniknya 'Beyoutiful' Pakubono, Jakarta Selatan.

Kebetulan kampungnya itu di Lhoksumawe, Aceh. Tompi pun memiliki kebiasaan saat hari Idul Fitri bersama keluarganya di kampung halaman tercinta tersebut.

Tradisi Lebaran penyanyi yang memutuskan mengurangi jadwal menyanyinya ini di kampungnya, yaitu ia biasa potong daging - mau yang kaya dan miskin pasti potong daging. Makna tradisi tersebut, kata Tompi, yaitu sebagai tanda saling berbagi kebahagiaan dengan sesama di hari nan Fitri.

sumber : centroone.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Gemericik Sapu Terdengar Seperti Irama yang Indah


Kutacane-Mengais sampah dengan menggunakan sapu lidi disepanjang jalan protokol bagi masyarakat sungguh suatu pekerjaan yang tidak diinginkan. Namun bagi Kasimah (34), mengais sampah di sepanjang jalan, menjelang subuh sudah menjadi warna yang indah dalam hidupnya.Bermandikan peluh dengan bersabunkan debu dibawah siraman sampah tidak lagi mengusik rasa malunya. sebuah kebanggaan malah muncul ketika dia dan teman-temannya mulai mengayunkan sapu mereka. Bahkan, Gemerisik sapu yang menggaruk aspal terdengar seperti irama yang indah ditelinga mereka.

Demikian juga ketika setitik cahaya mulai terlihat mengintip dari ufuk Timur dan masyarakat Kota Kutacane mulai melakukan aktifitasmereka. Hiruk pikuk suara kenderaan yang mulai ramai ternyata tidak
mampu mengusik gemulai ayunan tangan menyapu jalan.Tidak jarang masyarakat yang melintas di suasana menjelang subuh tersebut melemparkan tatapan sinis dari atas kenderaanya. Namun bagi
pasukan kuning dibawah bendera Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Agara ini, tatapan itu merupakan tantangan yang harus dilaluidengan sabar dalam meneruskan profesi mereka.

Dibenak para wanita yang kuat dan kokoh ini, hanya ada kata menuntaskan pekerjaan membersihkan kawasan kota dan dihati mereka hanya kata masa depan keluarga lebih utama.”Mengumpulkan sampah dan memasukan sampah kedalam tong yang disediakan adalah catatan rupiah bagi kami,”terang Kasimah dan teman-temannya.

Terlepas layak atau tidak jumlah rupiah yang diterimanya,terlepascukup atau tidak gaji yang akan membiayai keluarganya,bagi Kasimah dan Kasimah lainnya, sampah kota Kutacane merupakan sumber kehidupan buat keluarganya.Bahkan, pemikiran itu juga tertanam didalam bathin seluruh pasukan
kuning di jalan protokol hingga para pasukan kuning yang berpacu dengan truck pengangkut sampah menuju TPA karena tidak ada pekerjaan lain yang dapat mereka lakoni selain menjadi buruh kasar.

Harapan meraih masa depan yang lebih baik serta memperoleh penghasilan yang memadai dan hidup layak seperti masyarakat lain yang memiliki upah kerja diatas UMR (Upah Minimum Regional) sehingga bisa tinggal di rumah yang menjadi milik sendiri dan menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi menjadi sebuah keinginan dan cita-cita.

Puluhan buruh kasar yang berganti label menjadi pegawai harian lepas merupakan sebuah pasukan dengan ciri khas pakaian warna kuning dapat
ditemui disepanjang jalan protokol meskipun hari masih gelap menjelang subuh. Pasrah dengan keadaan, pasrah dengan kecilnya penghasilan, pasrah dengan penatnya badan,bukan berarti rela se rela-relanya sebuah
keikhlasan. Karena sebuah keterpaksaan jugalah yang menyeret mereka

jatuh kedalam kehidupan yang seakan luput dari perhatian dan terkesan dianak tirikan oleh Pemerintah Daerah Buktinya,penghasilan para pahlawan kebersihan itu belum mendapatkan perhatian yang serius. Dengan Delapan lembar uang seratus ribu para
pekerja harian lepas ini harus bangun pukul 03.00 Wib dini hari dan memulai pekerjaan menyapu jalan antara pukul 04.00 Wib atau 05.00 Wib
hingga berganti shif sekitar pukul 08.00 Wib.

Bayangkan, jika diri kita yang menjadi Kasimah sebagai salah seorangdari pasukan kuning di jalan protokol,mampukah kita melakukan pekerjaan tersebut dengan penghasilan yang jauh dibawah UMR,terlebih menjelang perayaan Idul Fitri yang hanya menunggu hitungan hari,sudahkan anak-anak mereka terpenuhi kebutuhan pakaian dan makanan menghadapi lebaran seperti anak kita di rumah…?

Adakah pejabat Pemerintah yang langsung turun melakukan pemeriksaanketempat tinggal para pasukan kuning itu, sudahkah Pemkab Agara
memberikan apa yang seharusnya menjadi hak bagi pekerja kasar yang masuk sebagai katagori Fakir Miskin.

sumber : rakyataceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

17 Bupati Penjaga Kelestarian Budaya



Meretas perjalanan Pemerintahan Kabupaten Aceh Selatan sejak tahun 1945 atau sejak masih bergabung dengan empat kabupaten/kota sebelum dimekarkan, 17 bupati menjadi ujung tombak terjaganya kelestarian adat budaya dan rumpun bahasa di daerah berjuluk Kota Naga ini.Semua kepala pemerintahan ini memegang teguh kiasan bahasa aneuk jamee, “indak lapuk kareno hujan, indak lakang karano paneeh” artinya, tidak lapuk karena hujan tidak lekang karena panas, bermakna adat akan selalu terjaga walau dengan berbagai cobaan dan permasalahan dihadapinya.

Perjalanan waktu tentang adat-istiadat, budaya dan tradisional kadang kala sering terpental dari ingatan manusia bahkan tergilas roda zaman akibat pengaruh maoderenisasi. Namun beda halnya dengan Aceh Selatan, adat istiadat dan tradisi daerah tetap lestari sepenjang zaman, semua itu tidak pernah sirna berkat kerjasama dan pelestarian masyarakat dengan para pemimpin. Sejak dulu, adat Aceh dan bahasanya masih lekat bagi masyarakat kabupaten Aceh Selatan, realisasi waris dari semboyan, “Adat bak phou Teumeureuhom, hukom bak Syiahkuala, Qanun bak meuntro Phang, Reusam bak Laksamana” selalu dijunjung tinggi oleh masyarakat yang kaya kebudayaan dan menganut empat bahasa itu.

Selain bahasa Aceh dan adat Aceh, Kabuapten Aceh Selatan juga diperkaya bahasa Kluet dan adat Kluet yang diwarisi seorang Raja Pemimpin Kerayaan Keluet bernama Raja Ngang. Konon, menurut sejarah, Raja Ngang mempunyai tiga orang permaisuri yang berasal dari silsilah Keluet, suku Tanah Karo dan Daratan Tinggi Alas atau daerah sejuk Gayo.

Berawal dari Kerajaan Keluet, akhirnya tumbuh peradaban, bahasa dan kebudayaan Kluet yang tidak pernah pudar bagi masyarakat Kluet Raya dan sekitarnya. Bahasa dan Adat Istiadat Kluet telah menjadi komunitas terpenting dalam kehidupan masyarakat Aceh Selatan. Bukan hanya sekedar basa-basi, adat perkawinan, keselamatan bahkan kenduri maulitpun masih digunakan tradisi Kluet.

Sementara itu, bahasa Aneuk jamee berasal dari bahasa Minang Kabau (Sumatera Barat). Bahasa Aneuk Jamee masuk ke wilayah Aceh Selatan melalui perantaraan para saudagar Padang yang berniaga ke pesisir Aceh. Pada zaman itu transportasi laut menggunakan Kapal Layar (Donggala-red). Entah karena angin kencang Kapal dagangan saudagar Minang mendarat dipesisir Tapaktuan.
Kedatangan para saudagar dari Sumatera Barat itu disambut dengan ramah tamah dan dimuliakan oleh penduduk Tapaktuan dan sekitarnya. Penduduk menyapa atau menyebut pendatang tersebut dengan sebutan aneuk Jamee (tamu-red). Mulai saat itulah bahasa Minang diadopsi menjadi bahasa aneuk Jamee.

Sejak pendaratan pertama, akhirnya para saudagar Sumatera Barat semakin sering datang ke Tapaktuan, bahkan mempersunting gadis setempat sebagai isteri. Sehingga sejumlah pendatang asal Minang Kabau menetap dan turut mengabadikan adat istiadat minang di Aceh Selatan.

Dalam melestarikan adat istiadat dan bahasa digunakan masyarakat Aceh Selatan, 17 Pemimpin Aceh Selatan senantiasa mempertahankan semua adat kebuadayaan terkandung di bumi Aceh Selatan. Sebuah bukti nyata dari peran pemerintah, setiap Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) selalu menampilkan dan memperlombakan adat budaya Kluet, Aneuk jamee, sebagai simbul ketenaran daerah Pala.

Hasilnya, pada PKA-IV, anjungan atau kontingen Aceh Selatan dibawah kepemimpinan bupati Ir. H. Machsalmina Ali, MM, menjadi juara umum PKA dibuka oleh Presiden RI, Mega Wati Soekarno Putri. Menyusul pada PKA-5 terjadi polemik, karena martabat dan harga diri Aceh Selatan merasa dilecehkan, Presiden Susilo Bambang Yhudiyono gagal mengunjungi Anjungan Aceh Selatan, padahal sudah dimasukkan dalam agenda. Walaupun Aceh Selatan hengkang dari arena PKA, namun telah banyak memperoleh kemenanganan dan tropi serta bonus, namun tidak diambil panitia, salah satunya pelaminan perkawinan Adat Kluet dan kesenian tradisional.

Mari kita telusuri siapa-siapa saja 17 memimpin Aceh Selatan sejak tahun 1945 sampai tahun 2013, telah bersusah payah mempertahankan, melestarikan dan memperkokoh adat budaya serta berjuang untuk membangun kabupaten Aceh Selatan.

Aceh Selatan pertama kali dipimpin oleh M.Sahim Hasyim (1945-1948), menyusul; M.Husen (1948-1949), H. Gaffur Akhir (1949-1950), Kamarusyid (1950-1955), Abdul Wahid Dahlawi (1955-1956). Kemudian, M.Yunan (1956-1957), M.Sahim Hasyimi (1957-1960), T. Cut Mamat (1960-1965), Kasim Tagok (1965-1970), Teuku Daud (1970-1971), Drs. Sukardi Is (1971-1983) atau dua periode, Drs. Ridwansyah (1983-1985), H. Zainal Abidin (1985-1988), Drs. H. Said Mudhahar Ahmad (1988-1993), Drs. H. Muhammad Sari Subki (1993-1998). Ir. H. Teuku Machsalmina Ali, MM, dua periode (1998-2003) dan (2003-2008). Husin Yusuf, S.Pdi (bupati sekarang, periode 2008-2013).

Rangkuman ini tidak bermaksud membangkitkan batang terendam, tetapi sekedar mengingatkan sosok dan sepak terjang para pemimpin Aceh Selatan. Salam kami Rakyat Aceh kepada semua kerabat dan generasi penerus dari 16 mantan bupati serta bupati yang masih berkuasa, semoga jasanya dalam membangun Aceh Selatan menjadi kenangan bagi rakyat.

sumber : rakyataceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Sekda: Perlu Gerakan Penyelamatan Warisan Budaya Aceh


Banda Aceh - Sekretaris Daerah Provinsi Aceh Teuku Setia Budi mengatakan perlu gerakan dan kepedulian seluruh elemen masyarakat untuk menyelamatkan warisan budaya dan benda-beda sejarah peninggalan masa lalu. “Semua pihak harus memiliki kepedulian dalam upaya penyelamatan warisan budaya dan benda-benda sejarah peninggalan masa lalu itu,” katanya di Banda Aceh, Rabu [20/06] .

Hal tersebut disampaikan Teuku Setia Budi usai peluncuran buku biografi berjudul “Harun Keuchik Leumiek Penyelamat Warisan Budaya”. Teuku Setia Budi meyakini masih banyak warisan budaya dan benda sejarah Aceh berusia ratusan tahun lalu yang kini belum semuanya tergali dengan baik sebagai upaya penyelamatannya.

Karena itu Sekda memberikan apresiasi kepada tokoh Aceh H Harun Keuchik Leumiek yang mengumpulkan dan mengoleksi benda-benda sejarah warisan budaya masa silam.

“Benda-benda sejarah yang dikumpulkan selama puluhan tahun itu kini masih bisa kita saksikan bersama karena tersimpan di museum pribadi H Harun Keuchik Leumiek. Apa yang dilakukan itu sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian pusaka Aceh,” katanya.

Terkait dengan buku biografi “Harun Keuchik Leumiek Penyelamat Warisan Budaya”, Sekda mengatakan sosok budayawan yang juga wartawan senior Aceh itu patut mendapat apresiasi.

“Harun Keuchik Leumiek adalah salah satu dari segelintir orang di negeri ini yang punya kepedulian terhadap warisan budaya lokal,” katanya.

Di Museum “Haji Harun Keuchik Leumiek” di kawasan Simpang Surabaya Kota Banda Aceh itu menyimpan berbagai benda sejarah, antara lain ratusan jenis perhiasan emas kuno yang umumnya merupakan perhiasan emas Aceh.

Kemudian puluhan jenis koleksi kain sutera Aceh, stempel kerajaan, Al Quran tulisan tangan yang dibuat pada abad ke-13, berbagai senjata tajam tradisional, ratusan koin kerajaan aceh, serta berbagai benda pusaka lainnya yang tidak pernah dilihat di tempat lain.

Sekda menjelaskan, pengumpulan benda-benda pusaka tersebut diperolehnya dengan cara yang tidak mudah, sebab melalui perjalanan yang melelahkan karena harus keluar masuk perkampungan hingga ke desa pedalaman di Aceh.

sumber : beritasore.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Ini Nama-nama Senjata Urang Gayo


Takengon – Sedikitnya ada 16 jenis peralatan atau senjata yang dimiliki suku bangsa Gayo yang berhasil dirangkum seorang kolektor senjata Gayo, M. Thaib, KB Aman Fauzan sejak beberapa tahun belakangan ini.

Ke-16 peralatan sebagai senjata perlindungan dari bahaya dan keperluan lainnya ini diungkapkan seorang kolektor senjata khas Gayo, M. Thaib. KB dalam kesempatan mendapat kunjungan seorang peneliti dari Badan Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Banda Aceh, Agung Suryo, Kamis 19 Juli 2012.

Diantara nama-nama senjata tersebut adalah :

Kunyur gagang mano, alat berburu yang sudah modern bermata besi
Pedang temor, terbuat dari Temor (sejenis pohon pinang yang banyak tumbuh di Gayo). Senjata yang terbuat dari Temor biasanya untuk anti kebal.
Pedang Kol, pedang berukuran agak besar
Parang berowe, senjata tajam yang khusus dipakai untuk mencari rotan
Penggeleh koro, senjata tajam khusus memotong hewan ternak besar
Kunyur temor, tombak berbahan Temor
Kunyur oloh, Tombak berbahan Bambu
Lapan sagi, senjata dari kayu bertekstur keras dibentuk dengan 8 sisi.
Tikon guru kampong, tongkat yang dipakai oleh orang pandai (tabib, kejurun belang, dan lain-lain)
Aci aci, terbuat dari kayu berduri
Tikon ni Reje, tongkat milik Raja yang berisi pedang
Rudus, sejenis pedang
Rudus kucak, pedang kecil
Tikon bemata, tongkat yang sebenarnya adalah senjata tajam
Penike, sebuah peralatan yang digunakan untuk mencari orang atau benda yang hilang.
Bawar, sejenis keris atau rencong yang merupakan lencana kebesaran Reje di Gayo.

Dari belasan peralatan tersebut, ada satu yang bentuknya adalah senjata tajam sejenis keris atau rencong namun tidak digunakan sebagaimana bentuknya, namanya Bawar.

“Bawar bukan senjata, namun sebagai lambang kekuasaan atau kebesaran seorang Reje (Raja-red) di Gayo,” kata M. Thaib KB.



Bawar merupakan lencana sebuah kebesaran kerajaan dan yang berhak menyimpannya adalah Reje. Dan di Gayo dalam sejarahnya, menurut M. Thaib KB ada beberapa Reje yang mempunyai Bawar diantaranya Patiamang di Gayo Lues, Reje Linge, Reje Gunung, Reje Syiah Utama, Reje Cik Serule, dan Reje Ilang.
M. Thaib KB menerangkan senjata Aci-aci atau Tu Inih. (Khalisuddin | Lintas Gayo)

Dan yang masih ada wujudnya diantaranya Bawar Reje Gunung yang disimpan M. Thaib. KB, Bawar Cik Serule di Serule, dan Bawar Reje Linge. Sementara Bawar Syiah Utama dinyatakan hilang oleh pewarisnya Mursyid Minosra. Hilang di Banda Aceh saat tsunami 2004 silam. Untuk Bawar Reje Ilang di rampas Belanda.

Untuk Bawar Linge, M. Thaib KB tidak yakin yang ada sekarang adalah yang asli. Sementara untuk Bawar Cik Serule dia mengaku pernah melihatnya dengan bentuk sangat mirip dengan Bawar Reje Gunung, hanya bahannya yang berbeda.

“Bawar Cik Serule bermata emas, bersarung emas namun bisa sembarang dibuka, mesti dengan sejumlah persyaratan dan perlakuan tertentu,” terang M. Thaib KB. Bawar mempunyai pasangan yang dinamakan Lading yang merupakan lencana bagi istri sang Reje, timpalnya.

Peralatan-peralatan atau senjata tersebut belum termasuk alat untuk mengkhitan, dan sejumlah peralatan lainnya yang biasa diapakai di Gayo untuk berbagai keperluan hidup, seperti Serampang (alat penangkap ikan).

Untuk melestarikan sekaligus agar dapat dilihat oleh orang banyak atas sejumlah peralatan-peralatan yang ada di Gayo, M. Thaib KB sangat berharap agar dapat disimpan di Museum.

“Benda peninggalan muyang datu hendaknya dapat disimpan di Museum agar dapat dilihat, dikenali, dipelajari sekaligus sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Gayo,” pinta M. Thaib KB.

sumber : lintasgayo.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

“Beguru” Dalam Adat Gayo


ISTILAH “beguru” dalam bahasa gayo punya multi arti. Misalnya: jika si A menuntut ilmu kebal kepada B, maka A dikatakan “beguru” dalam ilmu kebal kepada B. “Beguru” berarti pula meniru atau mengikuti aliran/mazhab atau budaya asing. Dalam kaitan ini dikatakan: “urang gayo nge beguru ku budaya luer.” (Orang Gayo sudah ‘membeo’ budaya luar) Selain itu, “beguru” bermakna berobat. Misalnya: “Kusa wè beguru?” (Kepada siapa dia berobat?) Pengertian lain dari “beguru” ialah: upacara penyampaian nasehat terakhir kepada calon pengantin lelaki atau perempuan, yang berlangsung secara terpisah dalam lingkungan keluarga masing-masing, diadakan pada malam menjelang keesokan hari dilangsungkan acara aqad nikah, dihadiri oleh sanak saudara dan penghulu kampung.

Acara “Beguru”, selain untuk menjalin hubungan silaturrahmi, juga media dakwah dan pendidikan. Betapa tidak! Nasehat difokuskan pada masalah tauhid dan aplikasi ‘akhlaqul karimah’. Untuk itulah, konsep pendidikan Islam yang tedapat dalam (QS: Luqman, 12-19) sangat relevan dipaparkan, karena materinya sarat dengan nilai-nilai moral dan pengenalan jati-diri –sadar bahwa nikmat yang dirasakan oleh manusia– merupakan rahmat dan karunia Allah yang harus disyukuri. Luqman adalah figur yang memenuhi criteria penerima hikmah. Inilah esensi dari (QS: Luqman, 12).

Ajaran tauhid yang dimaksud adalah: tidak mempersekutukan Allah (lihat: QS: Luqman, 13), (An-Nahl, 74) dan (Al-Ikhlas, 1-4), sehingga calon pengantin berhati teguh dan terbentuk suatu keluarga sakinah dan mawaddah bersama “orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am: 82). Wasiat Luqman kepada anaknya (Tsaran) merupakan hal penting dalam acara “beguru”, agar anak yang akan dilepas, tetap berpegang kepada ‘hablum-minAllah’ (tali Allah); dimana saja dan dalam lingkungan keluarga mana saja berada.

Akan halnya dengan implikasi ‘akhlaqul karimah’, menekankan kepada perintah berbuat baik kepada kedua orang tua; seraya mengingatkan: kalau Ibu telah mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan dalam keadaan lemah, yang diceritakan dalam (QS: Luqman, 14). Dengan begitu, calon mempelai tahu diri: darimana dia berasal dan akan melangkah kemana? Bagaimanapun, dalam hal-hal tertentu ada pengecualian, yaitu: jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (QS: Luqman, 15).

Ini penting, karena setelah berkeluarga, banyak pasangan suami/isteri bersikap kurang ajar, mengecewakan kedua orang tua dan mendewakan institusi pasangan suami/Isteri. Untuk mengelaknya, calon pengantin diberi kesadaran bahwa: sesudah berkeluarga: Ibu/Bapak-nya dua pasang, yakni: orang tua kandung + Mertua, yang tidak diperlakukan berat sebelah. Jadi, “beguru” benar-benar suatu wadah pendidikan akhlaq, yang menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, “agar orang terhindar dari perbutan tercela”. Selain itu, memelihara adab sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat (hablum-minannas). Tentang hal ini ditegaskan: “Jangan kamu palingkan wajahmu dari manusia ketika berbicara kepada mereka atau mereka berbicara denganmu karena merendahkan mereka dan sombong kepada mereka. Akan tetapi berlemah lembutlah kamu, dan tampakkan keramahan wajahmu pada mereka.” (lihat: QS: Luqman, 18). “Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37) “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu…” (QS: Luqman, 19). Jadi, wasiat Luqman merupakan konsep pendidikan keluarga dan hidup bermasyarakat. Diingatkan pula tentang kewajiban mengerjakan shalat dan melakukan ‘amar ma’ruf nahi munkar’ (QS: Luqman, 17). “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS: Ali-Imran, 104)

Demikian pula kreativitas, yang masuk dalam ‘accound ‘amal setiap orang, diperhitungkan betapapun kecil nilainya (QS: Luqman, 16). Ditegas lagi: “Siapapun yang mengerjakan kebajikan seberat zarrah, niscaya Dia akan membalasnya. Siapapun yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya Dia akan membalasnya pula” (QS: Al-Zalzalah, 7-8). Dalam konteks inilah, Al-Qurthubi berkata: “seseorang tidak akan kehilangan sesuatu yang telah ditakdirkan padanya.” (Lihat: tafsir Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, Kairo, 1994.

Akhirnya, “beguru” merupakan adat masyarakat Gayo yang sarat dengan pelajaran tentang panduan, supaya berinteraksi dan berkomunikasi dengan sopan-santun kepada kedua orang tua; bersyukur kepada Allah; mengikuti pola hidup para anbiya’ dan shalihin; mengerjakan shalat dan berbuat ’amar ma’ruf nahi munkar; bersikap sederhana dan menjaga sopan-santun dalam pergaulan bermasyarakat. Melarang berbuat syirik, bersikap angkuh/arogan, tabiat berlebihan dan serakah dalam segala hal.

Memandangkan “beguru” begitu penting, sehingga adat tersebut tetap dipelihara dan dilestarikan oleh orang gayo dimana saja mereka berada, sekaligus melegitimasi ungkapan: “si penting imente si turah kuet, mujegei edet ni muyang datu” (lirik Didong: Kabri Wali) dan “edet gayo peger ni agama”. (Yang penting iman kita harus kokoh, menjaga adat nenek moyang dan adat gayo pagarnya agama). Wallahu’aklam bissawab! Yusra Habib Abdul Gani (Pemerhati Masalah Islam dan Budaya, tinggal di Denmark)

sumber : lintasgayo.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Ini Pemenang Sayembara Logo Festival Danau Lut Tawar 2013



Takengon | Lintasgayo.com - Logo karya Amie nomor urut 59 akhirnya ditetapkan sebagai pemenang sayembara logo Festival Danau Lut Tawar 2013 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbuparpora) Kabupaten Aceh Tengah.

Logo tersebut dianggap paling memenuhi ketentuan yang disyaratkan penyelenggara yang menekankan pada Sapta Pesona Pariwisata dan unsur kedaerahan, seni dan budaya Gayo.

Walau ditetapkan sebagai pemenang, dalam berita acara yang ditandatangi oleh ke-3 orang dewan juri diantaranya Julihan Darussalam, M Nasir Alirgo dan Irwansyah serta diketahui Kepala Disbudparpora, Muchlis Gayo, SH tersebut, logo ini diberi catatan-catatan khusus diantaranya perahu dalam logo tersebut diganti dengan ilustrasi perahu tradisional Gayo.

Selanjutnya ornamen Kerawang Gayo dikombinasikan ke tulisan yang ada. Warna tulisan juga diubah, dibubuhkan ilustrasi pohon dan ikan khas Danau Lut Tawar.

“Sesuai ketentuan logo poin 6, dewan juri dan panitia berhak melakukan perubahan desain sebelum pemenang ditetapkan sebagai logo resmi Festival Danau Lut Tawar 2013,” terang Julihan Darussalam, Senin (21/5) didampingi dua orang juri lainnya M Nasir Alirgo dan Irwansyah serta diamini Kadisbudparpora Aceh Tengah, Muchlis Gayo.
Baca Selengkapnya

Pembentukan FP3RL, Untuk Selamatkan Peninggalan Reje Linge



Jakarta | Lintasgayo.com – Guna menyelamatkan warisan peninggalan Reje (Raja) Linge yang saat ini di koleksi Erah Linge, masyarakat Gayo di Jakarta membentuk Forum Penyelamatan dan Pelestarian Peninggalan Raja Linge (FP3RL).

Sebagai langkah awal, FP3RL ini juga akan melakukan penggalangan dana guna pengobatan Erah Linge yang kondisinya saat ini mengalami sakit parah. Terlebih pihak keluarga sudah tak sanggub lagi untuk mencari dana pengobatannya.

Guna menjalankan roda organisasi, FP3RL ini menyepakati menunjuk Yusradi Al-Gayoni selaku Sekretaris Jenderal (Sekjen). Forum ini atas prakarsa masyarakat Gayo di Jakarta yang saat pendiriannya juga “dibidani” Hasan, Staf Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif RI.

Yusradi mengungkapkan, awalnya, guna menyikapi kondisi Erah Linge yang sedang sakit berat dan adanya wacana penjualan peninggalan Reje (Raja) Linge, beberapa orang Gayo di Jakarta pun kemudian menjumpai Harun Zeni, perwakilan keluarga yang saat ini berada di Jakarta.

“Bang Erah lagi mate beden (stroke) dan saat ini sulit berkomunikasi. Karenanya, beliau memerlukan biaya untuk berobat. Karena keterbatasan biaya, sampai-sampai ada wacana untuk menjual peninggalaan Raja Linge yang sudah lama dikumpulkannya,” jelas Harun di Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (6/8/2012)

Terkait pengumpulan pelbagai peninggalan Raja Linge itu, jelas Harun, Erah sudah lama mengumpulkan warisan identitas masyarakat Gayo itu. Konsekuensinya, beliau mesti merogoh kantongnya sendiri. Bahkan, sampai menjual harta dan ratusan kerbaunya untuk mendapatkan suhuf-suhuf sejarah Gayo tersebut.

Bahkan, katanya lagi, Erah sempat menawarkan untuk memberikan koleksinya itu kepada pemerintah kabupaten di Gayo (Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Bener Meriah). Tinggal lagi, pemerintah kabupaten di Gayo mengupayakan museum.

“Sayangnya, tawaran itu kurang direspon,” aku Harun miris sembari menambahkan, saat ini ada beberapa koleksi sudah di tangan, mantan Bupati Bener Meriah Tagore Abu Bakar yang sebelumnya sempat membantu pengobatan Bang Erah.

“Terakhir, dia ) bantu Rp6 juta. Akhir-akhir ini, sudah tidak bisa lagi dihubungi,” sebutnya. Secara keseluruhan, ujar Harun mengungkapkan, ada 150 buah peninggalan Reje Linge dan Datuk Imem Lumut. Namun, ada 20 buah barang Reje Linge yang tidak diketahui namanya.

FP3RL

Menyangkut penggalangan dana untuk biaya pengobatan, Yusradi menjelaskan, tahap awal, forum ini fokus dalam penggalangan dana. Karenanya, bagi yang ingin membantu, bisa langsung menghubungi dirinya atau Harun Zeni.

“Dana ini akan langsung diserahkan kepada Pak Erah Linge dan setiap dana yang masuk akan dilaporkan dan dipertanggungjawabkan secara transparan,” kata Yusradi.

Kemudian, sambungnya, akan mencoba berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait baik di tanoh Gayo, Aceh maupun di Jakarta. Termasuk, dengan Senator, Forbes, dan Anggota DPR RI asal Aceh. Juga, dengan kementerian terkait.

Langkah berikutnya, kata pengkaji dan penulis buku Ekolinguistik itu menjelaskan, coba mengupayakan adanya Museum Mini yang nantinya langsung diurus keluarga. Pasalnya, Gayo masih belum punya museum.

“Sebelumnya, sudah ada dana untuk pembangunan museum di Gayo. Namun, karena conflict of interest sehingga dananya kembali lagi ke pusat,” aku Yusradi menyesalkan. “Secara pribadi, saya menolak penjualan peninggalan Reje Linge dan Datuk Imem Lumut tersebut. Ini adalah opsi terakhir dan terburuk. Kalau sempat dijual, maka terputuslah nilai historis yang dikandungi benda-benda tersebut. Dengan demikian, secara sosial, Gayo akan semakin cepat punah,” tegasnya.
Baca Selengkapnya

Enaknya Rujak Mameh Aceh ! Ini ada Resepnya



Rasanya manis, racikan bumbunya pun sederhana, Rujak Mameh begitulah sebutan bagi cemilan yang satu ini. Ada juga yang mengenal dengan nama lincah mameh, mameh sendiri berarti manis.

Dilihat sekilas, rujak mameh ini memang sangat menarik untuk dicoba saat berbuka. Tidak saja manis, tentu untuk menemukan taste yang bikin lidah tak mau berhenti juga dari pilihan buahnya.

Bulan puasa, rujak mameh memang jadi andalan penjual jajanan di pasar. Selain murah meriah, minuman sekaligus cemilan ini kaya akan vitamin karena mengandung beragam jenis buah yang diparut kecil.

Tertarik untuk meracik sendiri rujak mameh Aceh ini, berikut ini bahan-bahan yang perlu dipersiapkan:

300 g bengkuang, yang sudah kupas
300 g mangga muda, jenis apa saja
1 buah (500 g) nanas, kupas, potong kecil-kecil
200 g mentimun, iris tipis
200 g buah jambu air, cincang kasar
200 g buah kweni, kupas, cincang kasar
200 g wortel, parut atau potong kecil-kecil
2 buah sawo, kupas dan cincang kasar

Bahan untuk kuah rujak mameh:

10 buah cabai rawit (sesuai dengan tingkat pedasnya)
50 gr gula pasir (gula jawa)
1 sendok teh garam (secukupnya)
1/2 buah jeruk nipis, diperas airnya
150 gr kacang tanah tanpa kulit dan goreng
350 ml air panas

Cara membuat:

Semua bahan untuk kuah dihaluskan seperti cabai, gula jawa/pasir, garam, dan air jeruk nipis serta kacang tanah goreng, tumbuk halus.

Campur bumbu halus bersama semua bahan rujak. Tambahkan air sedikit demi sedikit, aduk-aduk hingga rata dan buah mengeluarkan air. Lalu simpan dalam lemari pendingin.

Namun, bagi yang repot untuk mengolah bahan-bahan rujak di atas, bisa menggunakan blender dengan cara menghaluskannya beberapa detik saja. Jadi, bahan-bahan rujak terasa sama dengan parutan kecil.

Tertarik untuk icip rujak mameh? jangan lupa dicoba dan sajikan dalam keadaan dingin saat berbuka tentu lebih nikmat.

sumber : http://seputaraceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Budidayakan “Grupel” , Kenapa Tidak !



lintasgayo.com - Disebutkan bahwa bahasa ilmiah Grupel (sebutan di Gayo, red) adalah Lisea.sp yang merupakan satu jenis kayu yang memiliki karakteristik yang khas dari kayu-kayu lain yang tumbuh dikawasan di kesejukan dataran tinggi Gayo pada ketinggian 700-1700 meter diatas permukaan laut (dpl).

Jenis kayu ini dapat dikategorikan sebagai jenis kayu yang unik, karena dapat bertahan hidup dibeberapa jenis tanah, baik tanah kritis, gersang maupun bebatuan sekalipun, dan dapat bertahan lama walaupun dijemur dalam terik matahari sekali pun. Ketinggian pohon ini dapat mencapai 35 meter dengan diameter batang mencapai 100 cm.

Ke-khasan lain yang dimiliki Grupel adalah mempunyai tekstur yang menarik. Oleh karenanya Grupel menjadi terkenal karena tekstur bunga yang ditampilkan sel kayu ini juga sangat indah yang disebabkan oleh tidak normalnya perkembanganbiakan sel pada batang dan akar kayu (bannir) tersebut. Kayu ini juga menabur aroma wangi atsiri yang khas.

Di Gayo, kayu ini biasa dipakai untuk barang kerajinan dan bagian kayu Grupel yang digunakan sebagai barang kerajinan bernilai tinggi adalah bagian akar dan bekas tebang yang ditinggalkan. Di Gayo dikenal dengan istilah Tomoh (Bongkol). Uniknya, semakin lama umur penebangan, limbah berupa Tomoh ini semakin bagus dan bernilai tinggi untuk bahan kerajinan.

Di tahun 1990 sampai 1997, Kayu Grupel pernah menjadi barang yang paling dicari oleh pengusaha kerajinan berbahan kayu berkebangsaan Korea . Saat itu, jengkal demi jengkal sudut hutan Gayo diacak-acak untuk mendapatkan kayu Grupel. Bahkan, bukan lagi sisa tebangan yang diambil, kayu Grupel yang masih berdiripun ditebang dan diangkut ke Korea dan sejumlah negara lainnya.

Membudidayakan Grupel

Perkembangbiakan Grupel tidak hanya terjadi karena seleksi alam. Akan tetapi, Grupel juga dapat dikembangbiakkan dengan beberapa hal. Hal ini diungkapkan oleh salah seorang pemerhati lingkungan di Gayo Kabupaten Aceh Tengah, Ir Jumhur, yang tergabung kedalam Forum Penyelamatan Danau Lut Tawar (FPDLT).

Dalam bincang-bincang di kantin Batas Kota (BK) Paya Tumpi Kabupaten Aceh Tengah, Jum’at (14/10/20110 saat menikmati kopi Espresso Black Coffee racikan barista Win Ruhdi Bathin yang juga sebagai Redaktur situs berita Lintas Gayo, Jumhur yang merupakan sarjana Kehutanan mengatakan bahwa membudidayakan Grupel hanya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, Stek Tunas dan Stek Pucuk.

Pada steek tunas menurut Jumhur akan terjadi perakaran secara alami oleh tunas-tunas yang dibelah dari bahan induknya.

Akan tetapi dikatakan Jumhur, pada saat ini kayu ini mulai langka dijumpai di daerah Gayo. Oleh karena itu, butuh proses panjang untuk membudidayakannya terlebih lagi kalau cara ini dilakukan belum tentu stek yang dilakukan akan berjalan dengan sempurna.

Cara yang kedua, terang Jumhur lebih lanjut, adalah dengan stek pucuk yakni dengan menggunakan media agar-agar dan menjaga suhu yang tetap pucuk-pucuk Grupel yang di stek dimasukkan kedalam inkubator dengan media agar-agar yang dimasukkan kedalamnya.

Teknologi ini sangat efektif dilakukan dan pertumbuhan akarnya pun agak lumayan lebih cepat dari pada stek tunas.

Namun, teknologi Inkubasi ini memakan biaya tinggi sehingga teknologi ini belum pernah dilakukan di Takengon. Teknologi yang mirip dengan kultur jaringan ini diharapkan dapat mengembalikan ke-khasan Grupel sebagai kayu yang banyak digunakan orang untuk membuat aksesoris rumah dan bernilai ekspor itu.

Jumhur juga mengatakan bahwa kayu Grupel hanya terdapat di daerah Gayo dan Afrika yaitu Maroco, hal itu dijelaskan oleh para pakar peneliti kayu di Aceh berdasarkan hasil penelusuran, kata Jumhur

Sangat disayangkan jikalau tidak ada penanganan yang khusus untuk kayu ini, maka kita sebagai generasi Gayo akan melihat kepunahan dari kayu ini. Banyak sekali anak-anak sekarang yang tak tahu lagi bagaimana bentuk dari Grupel.

Pengakuan seorang teman, dia hanya sering mendengar nama Grupel saja tanpa tahu bagaimana bentuknya. Hal ini tentu menambah sederetan benda yang diprediksi akan punah di bumi Gayo, seperti halnya Depik (Rasbora Tawarensis ) yang dipicu kerusakan lingkungan danau Lut Tawar, Bahasa Gayo, tutur dan adat, Keprok Gayo dan lain-lainnya tanpa sempat ada yang memulai untuk membenahinya. (Darmawan Masri)
Baca Selengkapnya

Zona Pantun Aceh



Ingin Pantun Aceh Anda "Nimbrung" alias tampil di Blog ini?
Mudah Kok.. Kakak-kakak, adek-adek, abang-abang, Bapak-bapak atau Ibu-Ibu tinggal join aja diblog ini atau bergabung dengan grup Facebook kami. Caranya :

1. Like Fans Page Kami Only Aceh (Selalu Aceh)
2. Setelah Bergabung tinggal posting Pantun Aceh Anda di Dinding Kami.
3. Pantun akan kami tampilkan di blog beserta nama anda.
4. Pantunnya 4 bait (disertakan bahasa Indonesianya)
5. Selesai deh..
Baca Selengkapnya